Ada ironi yang sulit diabaikan ketika belantara tropis dilalap api dalam bentangan yang begitu luas.
Asap pekat menutup langit. Satwa kehilangan rumah. Pepohonan yang tumbuh puluhan, bahkan ratusan tahun, lenyap dalam hitungan jam.
Dan di tengah bencana itu, mereka yang selama ini paling rajin berbicara tentang kelestarian alam dan deforestasi, tiba-tiba tak tampak.
Padahal ketika ekosistem masih hijau, begitu banyak suara terdengar lantang.
Menjaga pohon.
Menyelamatkan orangutan.
Melindungi keanekaragaman hayati.
Membentengi bumi dari krisis iklim.
Seminar digelar maraton. Laporan tebal diterbitkan. Kampanye dibuat masif. Foto bersama dipajang.
Belantara memang menjadi panggung yang sangat menarik ketika ia masih berupa wacana di ruang berpendingin udara.
Tetapi ketika api benar-benar datang, ceritanya berbeda.
Warga menghirup asap. Petani kehilangan ruang hidup. Satwa berlarian menyelamatkan diri.
Dan perhatian itu, entah mengapa, seolah ikut terbakar.
Tentu saja tidak semuanya begitu.
Ada relawan, petugas lapangan, masyarakat adat, pemadam, dan pegiat lingkungan sejati yang tetap bekerja dalam diam. Mereka tidak menunggu kamera untuk bergerak. Mereka datang karena memang harus datang.
Yang patut dipertanyakan justru mereka yang selama ini mengaku sebagai penjaga marwah alam, tetapi mendadak kehilangan suara ketika pepohonan benar-benar membutuhkan pembelaan.
Mungkin karena kebakaran tidak menyediakan panggung yang nyaman.
Tidak ada konferensi pers mewah di tengah kepulan asap. Tidak ada latar hijau yang estetik untuk menghias media sosial.
Yang ada hanya panas. Abu. Asap. Kelelahan. Risiko.
Di titik itu, kepedulian tidak lagi cukup menjadi retorika.
Ia membutuhkan keberanian untuk turun dan melihat sendiri apa yang sedang dihancurkan.
Karena ini bukan sekadar penggundulan hutan.
Ini bukan deforestasi biasa. Ini pembakaran. Ini pemusnahan.
Paru-paru bumi ini bukan sekadar kumpulan kayu. Ia menyimpan air, karbon, keanekaragaman hayati, dan kehidupan masyarakat yang bergantung kepadanya.
Ketika ia terbakar, yang musnah bukan hanya pohon dan satwa.
Sebagian masa depan kita ikut menjadi abu.
Maka absennya sebagian pemerhati ketika bencana meluas terasa lebih menyesakkan daripada asap itu sendiri.
Bukan karena setiap orang harus menjadi pemadam kebakaran.
Bukan.
Tetapi karena kepedulian sejati semestinya tidak hanya muncul ketika keadaan nyaman untuk diperdebatkan.
Belantara tidak membutuhkan terlalu banyak lidah yang pandai menjelaskan mengapa ia penting.
Ia membutuhkan tangan.
Ia membutuhkan keberanian.
Ia membutuhkan orang yang datang ketika bara menyala.
Sebab ukuran ketulusan bukan seberapa keras kita bersuara ketika alam masih hijau dan indah.
Tetapi seberapa teguh kita berdiri ketika rumah-rumah satwa itu sedang dilalap api.
Bahkan kalau yang bisa kita bawa cuma seember air.
Karena kadang, satu ember air yang dibawa dengan ketulusan jauh lebih berarti daripada seribu kata yang diucapkan dari ruang berpendingin udara.
