Oleh: Hukman Reni
Perubahan selalu turun dari jalanan. Kalimat itu bukan klise sejarah yang usang, melainkan aksioma yang telah dibuktikan berulang kali oleh bangsa-bangsa yang pernah merasakan kekerasan yang bersumber dari dalam sistem mereka sendiri.
Revolusi Prancis 1789 tidak lahir dari provokasi di beranda media sosial. Ia lahir dari kedalaman penderitaan rakyat, yang terlalu lama dicekik feodalisme absolut. Teriakan liberté égalité fraternité yang menghancurkan Bastille bukan sekadar luapan emosi di alun-alun Paris, melainkan buah dari tradisi berpikir kritis yang telah bergolak selama puluhan tahun di dalam naskah-naskah Rousseau, Voltaire, dan Montesquieu. Dari reruntuhan rezim lama itu bangkit Deklarasi Hak Asasi Manusia yang menggetarkan seluruh Eropa dan merambat hingga ke Rusia 1917, ke Tiongkok 1919, ke Jerman dan Amerika 1968.
Indonesia tidak terkecuali. Gerakan mahasiswa di negeri ini selalu menjadi kawah candradimuka perubahan. Namun ada sesuatu yang berubah dalam beberapa tahun terakhir. Sesuatu yang cukup mengganggu apabila diamati dengan kepala dingin dan hati yang jernih.
Di ruang publik hari ini kita menyaksikan dominasi caci maki, yel-yel ofensif, dan anarki verbal, yang dengan sangat riang hati menggantikan argumen dalam aksi-aksi mahasiswa kontemporer. Para pengamat yang simpatik menyebutnya ekspresi kebebasan. Para pengamat yang lebih jujur mungkin akan menyebutnya sesuatu yang lain.
Ada era ketika mahasiswa Indonesia masih membaca dengan serius. Era itu bernama era Rahman Tolleng. Lahir di Sinjai, Sulawesi Selatan, pada 5 Juli 1937, Tolleng adalah salah satu arsitek intelektual gerakan mahasiswa yang paling teguh dalam sejarah Indonesia modern.
Koran Mahasiswa Indonesia yang terbit pertama kali di Bandung pada 19 Juni 1966 dengan sirkulasi dua puluh dua ribu kopi sekali cetak adalah monumen dari era itu.
Peneliti Prancis François Raillon yang menulis disertasi tentang politik dan ideologi mahasiswa awal Orde Baru menyimpulkan dengan tegas bahwa, Mahasiswa Indonesia adalah Rahman Tolleng dan Rahman Tolleng adalah Mahasiswa Indonesia. Koran ini dikaji oleh nama-nama besar seperti Bill Liddle, Ken Ward, Arief Budiman, dan Harold Crouch, bukan karena sensasinya melainkan karena kedalamannya.
Tolleng percaya pada cita-cita kebangsaan Republik Indonesia, bukan feodalisme, bukan oligarki. Ia bangga dengan sosialisme demokrat dan setia pada perjuangan kesetaraan. Ia mengenal Sutan Sjahrir, Jenderal M. Yusuf (karena sama dari Sulawesi Selatan), hingga Soe Hok Gie yang sering menulis untuk korannya, dan meramalkan dengan tepat bahwa usia rezim Soeharto tinggal hitungan minggu ketika momen Mei 1998 akhirnya tiba.
Namun gerakan ini juga menyimpan tragedi yang instruktif. Mahasiswa yang semula berjuang menumbangkan rezim lama kemudian bergabung dengan rezim baru, lalu kecewa karena rezim baru itu mengingkari cita-cita bersama dan justru muncul sebagai monster yang lebih rapi administrasinya.
Tolleng kecewa, mungkin menyesal, seperti tokoh dalam novel Boris Pasternak Doctor Zhivago yang mengeluh bahwa sesuatu yang dikandung dengan luhur akhirnya menjadi kasar dan material.
Tolleng pun menjauh dari kekuasaan sampai akhir hayatnya.
Yang perlu dicatat adalah, bahwa bahkan dalam kekecewaannya Tolleng tidak merespons dengan caci maki. Ia merespons dengan analisis. Ia tetap menjadi figur dengan pengetahuan yang luas, prinsip yang teguh, dan perhatian mendalam kepada anak muda. Kekecewaan yang bermartabat, begitu barangkali cara paling tepat untuk menyebutnya.
Untuk memahami betapa jauh gerakan mahasiswa telah menyimpang dari dirinya yang paling baik, tidak ada contoh yang lebih jelas dari kasus Kedung Ombo.
Waduk yang dibangun di Jawa Tengah itu menyebabkan ribuan warga desa kehilangan tanah dan dipaksa pindah tanpa ganti rugi yang layak. Pemerintah Orde Baru pada 1989 mengalirkan air waduk, sementara warga menolak karena nilai kompensasinya sangat rendah.
Mahasiswa UKSW Salatiga bersama mahasiswa dari berbagai universitas membentuk Forum Komunikasi Mahasiswa untuk Masyarakat Kedung Ombo. Mereka bergumul dalam naungan Yayasan Geni (Gemi Nastiti). Mereka hidup bersama warga di lapangan, merasakan sendiri tekanan militer Orde Baru, dan membangun kumpulan data hukum yang kuat untuk mendukung gugatan di Mahkamah Agung. Bukan sekadar demonstrasi. Bukan sekadar yel-yel di pinggir jalan. Melainkan advokasi hukum yang tekun dan berkepanjangan.
Mahkamah Agung melalui Putusan Nomor 2263 K/Pdt/1991 akhirnya memenangkan gugatan warga dan menetapkan ganti rugi yang lebih layak. Kemenangan itu tidak datang dalam semalam. Perjuangan yang dimulai pada 1989 baru menemukan hasilnya pada 1991 di tingkat Mahkamah Agung dan terus berlanjut dalam pelaksanaannya hingga awal 2000-an. Dua belas tahun perjuangan yang konsisten, terstruktur, dan berbasis data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bahasa yang digunakan para mahasiswa itu bukan bahasa caci maki, melainkan bahasa hukum, keadilan substantif, dan hak asasi manusia. Di tengah sensor ketat Orde Baru, ketajaman argumen adalah satu-satunya senjata agar gerakan tidak mudah dikriminalisasi. Solidaritas dibangun melalui diskusi teater, pementasan seni, dan kerja advokasi yang nyata.
Kemenangan Kedung Ombo bukan kebisingan sesaat. Ia tercatat dalam yurisprudensi Mahkamah Agung dan menjadi salah satu cermin perjuangan agraria berikutnya.
Era Soeharto menciptakan paradoks yang secara historis cukup menyiksa untuk diakui. Kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus yang dikeluarkan pada 1978 bertujuan mengekang aktivitas politik mahasiswa. Dalam bahasa yang lebih jujur, pemerintah sedang mencoba memotong lidah gerakan.
Namun sejarah memiliki selera humor yang halus. Represi itu tidak membunuh gerakan melainkan memaksanya masuk ke dalam tanah dan bertumbuh di sana dengan cara yang jauh lebih solid. Kelompok studi yang muncul sebagai respons terhadap kebijakan NKK-BKK menjadi cikal bakal gerakan mahasiswa pada dekade berikutnya. Ketika gerakan terbuka dilarang, mahasiswa belajar melakukan gerakan bawah tanah yang jauh lebih disiplin secara intelektual.
Mereka harus membaca lebih banyak karena mereka tidak bisa berteriak. Mereka harus berpikir lebih keras karena mereka tidak bisa berdemonstrasi secara terbuka. Hasilnya adalah, generasi yang ketika akhirnya turun ke jalan pada akhir 1980-an membawa bekal argumentasi yang jauh lebih kuat dari yang tampak di permukaan.
Sistem yang paling keras menekan gerakan justru melahirkan gerakan yang paling substantif. Sementara sistem yang memberikan kebebasan penuh, seperti yang kita alami pasca-reformasi, justru melahirkan gerakan yang paling dangkal. Tentu saja ini bukan argumen untuk menghidupkan kembali NKK-BKK. Ini adalah undangan untuk bertanya dengan serius, apa yang seharusnya menggantikan tekanan eksternal sebagai pembentuk disiplin berpikir dalam gerakan.
Memasuki era digital yang kita huni hari ini, transformasi yang terjadi pada gerakan mahasiswa tidak bisa dijelaskan hanya dengan konsep kemerosotan moral atau kelemahan karakter. Penjelasan semacam itu terlalu sederhana dan terlalu nyaman, karena ia menghindari pertanyaan yang lebih penting tentang bagaimana sistem bekerja.
Yang terjadi adalah sesuatu yang lebih sistemik. Media sosial tidak beroperasi berdasarkan prinsip kebenaran atau kedalaman argumen. Ia beroperasi berdasarkan prinsip keterlibatan atau engagement. Algoritma platform digital secara inheren menguntungkan konten yang memicu emosi ekstrem, khususnya amarah. Ini bukan kebetulan teknis melainkan desain yang disengaja karena amarah menghasilkan lebih banyak komentar, lebih banyak share, lebih banyak waktu layar, dan pada akhirnya lebih banyak pendapatan iklan bagi platform.
Tolleng percaya pada cita-cita kebangsaan Republik Indonesia, bukan feodalisme, bukan oligarki. Ia bangga dengan sosialisme demokrat dan setia pada perjuangan kesetaraan. Ia mengenal Sutan Sjahrir, Jenderal M. Yusuf (karena sama dari Sulawesi Selatan), hingga Soe Hok Gie yang sering menulis untuk korannya, dan meramalkan dengan tepat bahwa usia rezim Soeharto tinggal hitungan minggu ketika momen Mei 1998 akhirnya tiba.
Namun gerakan ini juga menyimpan tragedi yang instruktif. Mahasiswa yang semula berjuang menumbangkan rezim lama kemudian bergabung dengan rezim baru, lalu kecewa karena rezim baru itu mengingkari cita-cita bersama dan justru muncul sebagai monster yang lebih rapi administrasinya.
Tolleng kecewa, mungkin menyesal, seperti tokoh dalam novel Boris Pasternak Doctor Zhivago yang mengeluh bahwa sesuatu yang dikandung dengan luhur akhirnya menjadi kasar dan material.
Tolleng pun menjauh dari kekuasaan sampai akhir hayatnya.
Yang perlu dicatat adalah, bahwa bahkan dalam kekecewaannya Tolleng tidak merespons dengan caci maki. Ia merespons dengan analisis. Ia tetap menjadi figur dengan pengetahuan yang luas, prinsip yang teguh, dan perhatian mendalam kepada anak muda. Kekecewaan yang bermartabat, begitu barangkali cara paling tepat untuk menyebutnya.
Untuk memahami betapa jauh gerakan mahasiswa telah menyimpang dari dirinya yang paling baik, tidak ada contoh yang lebih jelas dari kasus Kedung Ombo.
Waduk yang dibangun di Jawa Tengah itu menyebabkan ribuan warga desa kehilangan tanah dan dipaksa pindah tanpa ganti rugi yang layak. Pemerintah Orde Baru pada 1989 mengalirkan air waduk, sementara warga menolak karena nilai kompensasinya sangat rendah.
Mahasiswa UKSW Salatiga bersama mahasiswa dari berbagai universitas membentuk Forum Komunikasi Mahasiswa untuk Masyarakat Kedung Ombo. Mereka bergumul dalam naungan Yayasan Geni (Gemi Nastiti). Mereka hidup bersama warga di lapangan, merasakan sendiri tekanan militer Orde Baru, dan membangun kumpulan data hukum yang kuat untuk mendukung gugatan di Mahkamah Agung. Bukan sekadar demonstrasi. Bukan sekadar yel-yel di pinggir jalan. Melainkan advokasi hukum yang tekun dan berkepanjangan.
Mahkamah Agung melalui Putusan Nomor 2263 K/Pdt/1991 akhirnya memenangkan gugatan warga dan menetapkan ganti rugi yang lebih layak. Kemenangan itu tidak datang dalam semalam. Perjuangan yang dimulai pada 1989 baru menemukan hasilnya pada 1991 di tingkat Mahkamah Agung dan terus berlanjut dalam pelaksanaannya hingga awal 2000-an. Dua belas tahun perjuangan yang konsisten, terstruktur, dan berbasis data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bahasa yang digunakan para mahasiswa itu bukan bahasa caci maki, melainkan bahasa hukum, keadilan substantif, dan hak asasi manusia. Di tengah sensor ketat Orde Baru, ketajaman argumen adalah satu-satunya senjata agar gerakan tidak mudah dikriminalisasi. Solidaritas dibangun melalui diskusi teater, pementasan seni, dan kerja advokasi yang nyata.
Kemenangan Kedung Ombo bukan kebisingan sesaat. Ia tercatat dalam yurisprudensi Mahkamah Agung dan menjadi salah satu cermin perjuangan agraria berikutnya.
Era Soeharto menciptakan paradoks yang secara historis cukup menyiksa untuk diakui. Kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus yang dikeluarkan pada 1978 bertujuan mengekang aktivitas politik mahasiswa. Dalam bahasa yang lebih jujur, pemerintah sedang mencoba memotong lidah gerakan.
Namun sejarah memiliki selera humor yang halus. Represi itu tidak membunuh gerakan melainkan memaksanya masuk ke dalam tanah dan bertumbuh di sana dengan cara yang jauh lebih solid. Kelompok studi yang muncul sebagai respons terhadap kebijakan NKK-BKK menjadi cikal bakal gerakan mahasiswa pada dekade berikutnya. Ketika gerakan terbuka dilarang, mahasiswa belajar melakukan gerakan bawah tanah yang jauh lebih disiplin secara intelektual.
Mereka harus membaca lebih banyak karena mereka tidak bisa berteriak. Mereka harus berpikir lebih keras karena mereka tidak bisa berdemonstrasi secara terbuka. Hasilnya adalah, generasi yang ketika akhirnya turun ke jalan pada akhir 1980-an membawa bekal argumentasi yang jauh lebih kuat dari yang tampak di permukaan.
Sistem yang paling keras menekan gerakan justru melahirkan gerakan yang paling substantif. Sementara sistem yang memberikan kebebasan penuh, seperti yang kita alami pasca-reformasi, justru melahirkan gerakan yang paling dangkal. Tentu saja ini bukan argumen untuk menghidupkan kembali NKK-BKK. Ini adalah undangan untuk bertanya dengan serius, apa yang seharusnya menggantikan tekanan eksternal sebagai pembentuk disiplin berpikir dalam gerakan.
Memasuki era digital yang kita huni hari ini, transformasi yang terjadi pada gerakan mahasiswa tidak bisa dijelaskan hanya dengan konsep kemerosotan moral atau kelemahan karakter. Penjelasan semacam itu terlalu sederhana dan terlalu nyaman, karena ia menghindari pertanyaan yang lebih penting tentang bagaimana sistem bekerja.
Yang terjadi adalah sesuatu yang lebih sistemik. Media sosial tidak beroperasi berdasarkan prinsip kebenaran atau kedalaman argumen. Ia beroperasi berdasarkan prinsip keterlibatan atau engagement. Algoritma platform digital secara inheren menguntungkan konten yang memicu emosi ekstrem, khususnya amarah. Ini bukan kebetulan teknis melainkan desain yang disengaja karena amarah menghasilkan lebih banyak komentar, lebih banyak share, lebih banyak waktu layar, dan pada akhirnya lebih banyak pendapatan iklan bagi platform.
Dalam kerangka ini amarah bukan lagi respons moral. Ia adalah komoditas yang paling menguntungkan.
Gerakan mahasiswa yang seharusnya menjadi kekuatan moral yang mandiri mengalami penarikan masuk ke dalam logika pasar digital ini. Jika dahulu keberhasilan sebuah gerakan diukur dari kedalaman naskah kajiannya atau ketepatan data hukum yang dikumpulkan, hari ini keberhasilan bergeser pada seberapa viral videonya. Caci maki di atas mobil komando beralih fungsi menjadi konten, sebuah bahan tontonan untuk memburu perhatian publik di ruang siber.
Ketika ukuran keberhasilan berubah, seluruh perilaku gerakan ikut berubah mengikutinya. Caci maki lebih mudah diproduksi dan lebih cepat viral daripada analisis struktural yang membutuhkan waktu untuk dipahami. Maka caci maki menang secara alamiah dalam ekosistem digital ini, bukan karena ia lebih benar, melainkan karena ia lebih cocok dengan kondisi lingkungan yang telah direkayasa sedemikian rupa oleh kepentingan modal.
Ada kenyamanan psikologis tersendiri dalam pola gerakan yang menyerang individu ketimbang membongkar sistem. Menyerang satu pejabat jauh lebih sederhana secara kognitif daripada menganalisis bagaimana kebijakan yang merugikan rakyat bisa terus lahir dari sebuah mesin birokrasi yang kompleks.
Satu individu bisa digambarkan, diberi nama, dicaci maki, bahkan dijadikan meme. Sistem adalah entitas yang tidak bisa difoto dan tidak bisa dimeme-kan. Dalam ekosistem konten digital di mana kesederhanaan adalah keunggulan, individu selalu mengalahkan sistem sebagai target narasi. Maka gerakan yang dikontrol oleh logika digital akan selalu cenderung ke arah menyerang orang bukan membongkar akar masalah.
Yang hilang dalam proses ini adalah kesadaran, bahwa oligarki atau rezim yang korup bukan tentang keburukan personal pemimpinnya semata, melainkan tentang bangunan kelembagaan yang memungkinkan keburukan itu bertahan dan terus bereproduksi.
Soeharto tidak bertahan selama tiga dekade hanya karena ia jahat secara personal, melainkan karena ia berhasil membangun sistem yang membuat kejahatannya menjadi terlembagakan dan sulit dihancurkan hanya dengan pergantian satu orang.
Ketika mahasiswa 1998 berhasil menggulingkannya mereka segera menemukan bahwa menggulingkan satu individu tidak secara otomatis membongkar sistem. Pelajaran itu seharusnya menjadi warisan metodologis yang paling berharga dari generasi 1998. Sejauh yang bisa kita amati hari ini, warisan itu belum sepenuhnya diklaim.
Hari ini pengekangan NKK-BKK sudah lama runtuh. Semua orang bebas berbicara apa saja. Mencaci maki presiden atau pejabat di muka umum paling parah berujung sanksi digital atau penahanan beberapa hari. Karena keberanian menjadi semurah itu, ia tidak lagi membutuhkan substansi untuk membenarkan dirinya sendiri.
Keberanian tanpa substansi adalah tontonan, bukan perjuangan. Dan tontonan adalah persis komoditas yang paling diinginkan oleh pasar digital.
Kebebasan berpendapat yang lahir dari reformasi ternyata tidak otomatis melahirkan tradisi berpikir yang lebih kuat. Yang tumbuh justru sebaliknya. Keberanian verbal yang instan dan murah, yang karena terlalu mudah diperoleh, kehilangan bobot dan maknanya. Hilangnya rasa takut struktural tidak dibarengi dengan tumbuhnya ketajaman cara berpikir. Dan ketika nalar kritis itu absen, ruang kosong di dalam kepala para demonstran segera diisi oleh luapan emosi mentah yang mencari jalan keluar paling mudah.
Jalan keluar paling mudah itu bernama caci maki.
Perubahan selalu datang dari jalanan tetapi dengan muatan yang sungguh-sungguh. Itulah yang membedakan revolusi dari kerusuhan, pergerakan dari pertunjukan, perjuangan dari tontonan.
Gerakan mahasiswa Indonesia harus kembali kepada dirinya yang paling baik. Ini bukan seruan untuk nostalgia yang tidak realistis. Ini adalah tuntutan yang sangat konkret. Kembali pada tradisi riset yang tekun dan tidak terburu-buru oleh deadline viral. Kembali pada pengumpulan data sosial dan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan secara faktual. Kembali pada pembangunan solidaritas yang lahir dari persentuhan langsung dengan komunitas yang paling merasakan dampak ketidakadilan, bukan dari empati jarak jauh melalui layar gawai.
Kasus Kedung Ombo adalah antitesis yang paling jelas dari gerakan mahasiswa era digital yang hanya mengandalkan viralitas. Tanpa kumpulan data yang kuat dan narasi yang tertata namun menohok, gerakan mahasiswa hari ini hanya akan menjadi kebisingan sesaat yang mudah diredam dan mudah dilupakan.
Selama gerakan mahasiswa masih menggunakan instrumen budaya pop digital yang dangkal dan mengandalkan kebisingan verbal, selama itu pula mereka sebenarnya sedang dikendalikan oleh sistem yang mereka klaim sedang mereka lawan. Algoritma media sosial yang mereka gunakan untuk menyebarkan pesan perjuangan adalah produk dari kapitalisme digital yang menjadikan amarah sebagai bahan dagangan.
Ketika mahasiswa menjadi produsen konten amarah yang paling produktif, mereka bukan sedang melawan sistem melainkan sedang menjadi bagian paling berguna dari sistem itu.
Caci maki, tudingan, dan kecurigaan bukan ideologi gerakan mahasiswa. Ia adalah pertanda bahwa gerakan itu sedang kehilangan dirinya sendiri.
Caci maki, tudingan, dan kecurigaan bukan ideologi gerakan mahasiswa. Ia adalah pertanda bahwa gerakan itu sedang kehilangan dirinya sendiri.
Amarah yang tidak dikelola dengan cara berpikir yang matang tidak menghasilkan perubahan. Ia hanya menghasilkan kebisingan yang dengan sangat cepat akan diserap oleh sistem sebagai bukti bahwa mahasiswa tidak perlu ditanggapi secara serius.
Dan tidak ada kemenangan yang lebih mudah bagi oligarki selain melihat mahasiswa sibuk memproduksi kebisingan yang mereka kira sebagai perlawanan.
Dan tidak ada kemenangan yang lebih mudah bagi oligarki selain melihat mahasiswa sibuk memproduksi kebisingan yang mereka kira sebagai perlawanan.
