Jangan Jadi Kayu Bakar

Jangan Jadi Kayu Bakar

Agustus seharusnya menjadi bulan ketika sebuah bangsa menengok dirinya sendiri. Merah putih dikibarkan di depan rumah, di sekolah, di kantor, di gang sempit tempat orang-orang biasa menjalani hidup. Lagu kebangsaan terdengar dari pengeras suara. Anak-anak berbaris dengan wajah penuh semangat.

Tetapi di balik perayaan itu ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar seberapa meriah upacara kemerdekaan. Apakah kita masih mampu menjaga akal sehat ketika perbedaan politik berubah menjadi kebencian dan kebencian diperdagangkan sebagai komoditas kekuasaan.

Kita sedang hidup dalam zaman ketika sebuah kabar dapat bergerak lebih cepat daripada kebenaran. Sebuah potongan video dapat memancing kemarahan sebelum konteksnya diketahui. Sebuah judul dapat membuat orang takut sebelum isi beritanya dibaca. Sebuah unggahan anonim dapat dipercaya hanya karena sesuai dengan kemarahan yang sudah lebih dahulu tumbuh dalam kepala.

Dalam keadaan seperti itu masyarakat tidak lagi sekadar menerima informasi. Masyarakat sedang diperebutkan.

Media sosial telah mengubah cara manusia berdebat. Yang paling keras belum tentu paling benar tetapi sering menjadi yang paling banyak dilihat. Yang paling provokatif mendapatkan perhatian. Yang membuat orang marah lebih mudah dibagikan daripada penjelasan yang membutuhkan kesabaran.

Algoritma tidak mengenal persaudaraan dan tidak mempunyai kepentingan menjaga ketenangan masyarakat. Ia hanya membaca perhatian. Semakin besar perhatian semakin besar pula nilai sebuah narasi.

Di situlah persoalannya menjadi lebih serius. Ketakutan dapat berubah menjadi modal. Kemarahan dapat menjadi mesin mobilisasi. Kebencian dapat menjadi industri. Orang dapat memperoleh pengikut karena membuat orang lain takut. Kelompok politik dapat memperoleh tenaga karena berhasil menemukan musuh bersama. Bahkan mereka yang tidak mempunyai kepentingan langsung dalam sebuah persoalan dapat ikut menyebarkan kemarahan karena mendapatkan keuntungan dari kegaduhan.

Pemerintah tentu tidak boleh kebal terhadap kritik. Kekuasaan yang tidak dikoreksi akan mudah kehilangan kemampuan mendengar. Kebijakan yang buruk harus dipersoalkan. Program yang gagal harus dievaluasi. Pejabat yang menyalahgunakan kewenangan harus diperiksa dan bila terbukti bersalah harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Demokrasi memang membutuhkan suara yang keras ketika kepentingan publik diabaikan.

Tetapi kritik membutuhkan batas yang membedakannya dari hasutan. Menolak kebijakan bukan berarti membenci negara. Mengoreksi pemerintah bukan berarti mengajak masyarakat menghancurkan kehidupan bersama. Demonstrasi adalah bagian dari demokrasi tetapi kekerasan terhadap warga bukanlah ukuran keberanian politik. Kebebasan menyampaikan pendapat tidak pernah memberikan hak kepada siapa pun untuk menjadikan masyarakat biasa sebagai korban dari pertarungan kekuasaan.

Yang paling cepat merasakan akibat dari kekacauan biasanya bukan mereka yang berada di atas panggung. Ketika jalan berubah menjadi tempat bentrokan pedagang kecil kehilangan pembeli. Ketika toko tutup pekerja harian kehilangan pendapatan. Ketika sekolah terganggu anak-anak kehilangan ruang belajar. Ketika lingkungan dipenuhi ketakutan keluarga biasa memilih tinggal di rumah. Sementara itu para pemilik pengaruh masih dapat berbicara dari ruang yang aman dan melanjutkan pertarungan melalui layar.

Karena itu politik harus selalu mengingat manusia yang berada di luar panggungnya. Negara bukan sekadar gedung pemerintahan. Demokrasi bukan sekadar jumlah suara dalam pemilu. Republik adalah kehidupan sehari-hari jutaan orang yang ingin bekerja tanpa takut pulang terlambat dan ingin menyekolahkan anak tanpa harus bertanya apakah jalan di depan rumah mereka masih aman.

Namun ada persoalan lain yang tidak boleh kita tutup mata. Sejarah dunia menunjukkan bahwa konflik dalam sebuah negara dapat dimanfaatkan oleh kepentingan dari luar. Kekuatan asing tidak selalu hadir dalam bentuk tentara dan senjata. Dalam perkembangan teknologi informasi pengaruh dapat bergerak melalui jaringan komunikasi pendanaan propaganda dan operasi pembentukan opini. Kelemahan sosial dapat dipelajari. Luka lama dapat ditemukan. Perbedaan dapat diperbesar. Kemarahan dapat diarahkan kepada sasaran tertentu.

Jika terdapat tangan asing yang menggerakkan kebencian untuk kepentingannya sendiri maka persoalan itu bukan lagi sekadar pertengkaran politik domestik. Itu menyentuh kedaulatan. Bangsa yang merdeka tidak boleh membiarkan rakyatnya menjadi kendaraan bagi agenda pihak lain.

Tetapi tuduhan tentang tangan asing juga tidak boleh menjadi alasan untuk membungkam kritik. Setiap tuduhan harus memiliki bukti. Setiap dugaan harus dapat diuji. Jika ada aliran dana maka telusuri. Jika ada jaringan komunikasi maka periksa. Jika ada aktor yang mengarahkan propaganda maka ungkap. Jika terdapat kepentingan ekonomi atau geopolitik di balik sebuah operasi pengaruh maka jelaskan kepada publik dengan data. Negara yang sehat tidak melawan propaganda dengan propaganda lain.

Yang lebih berbahaya justru ketika masyarakat sendiri membantu pekerjaan tersebut tanpa menyadarinya. Sebuah narasi dilemparkan dari luar kemudian dipungut oleh akun lokal. Kemarahan diperbesar oleh tokoh yang mempunyai pengikut. Potongan informasi disebarkan tanpa pemeriksaan. Pada akhirnya masyarakat merasa bahwa kebencian itu sepenuhnya lahir dari dirinya sendiri. Padahal mungkin ada pihak yang sejak awal hanya menunggu kita saling menyerang.

Di titik inilah kedewasaan sebuah bangsa diuji. Kita tidak boleh menjadi naif terhadap kemungkinan campur tangan asing tetapi juga tidak boleh menjadi bangsa yang melihat tangan asing di balik setiap masalah. Kedua sikap itu sama-sama berbahaya. Yang pertama membuat kita mudah ditunggangi. Yang kedua membuat kita kehilangan kemampuan melihat kesalahan sendiri.

Kita harus mampu memegang dua kebenaran sekaligus. Pemerintah dapat salah dan harus dikritik. Pada saat yang sama kekacauan dapat dimanfaatkan oleh kepentingan yang ingin melihat Indonesia melemah. Kritik terhadap pemerintah tidak otomatis menjadi pengkhianatan. Tetapi menghasut kebencian demi membuka ruang bagi kepentingan pihak lain juga tidak dapat disebut perjuangan rakyat.
Ukuran yang paling adil adalah fakta.

Jika pemerintah salah katakan salah. Jika kebijakan merugikan rakyat bongkar dengan data. Jika aparat melakukan kekerasan usut berdasarkan hukum. Jika demonstrasi berlangsung secara damai lindungi haknya. Jika ada provokasi ungkap siapa yang menggerakkan. Jika ada pendanaan yang mencurigakan telusuri. Jika ada jaringan asing yang mencoba memanfaatkan konflik dalam negeri bongkar pula jejaknya.

Tidak boleh ada standar kebenaran yang berubah hanya karena pelakunya berada di pihak yang kita sukai.

Kemerdekaan mempunyai arti yang lebih dalam daripada terbebas dari penjajahan masa lalu. Kemerdekaan juga berarti kemampuan sebuah bangsa menentukan arah hidupnya sendiri. Bangsa yang mudah dikendalikan oleh propaganda bukan bangsa yang sepenuhnya merdeka. Bangsa yang mudah dipecah oleh kebencian juga belum sepenuhnya memahami arti persatuan. Dan bangsa yang rela menjadi alat kepentingan orang lain sedang mempertaruhkan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada kemenangan politik sesaat.

Agustus seharusnya mengingatkan kita pada hal itu. Para pendiri republik tidak mewariskan Indonesia kepada kita agar dipakai sebagai panggung pertengkaran tanpa akhir. Mereka meninggalkan sebuah rumah yang dibangun dengan pengorbanan manusia. Darah telah tumpah. Nyawa telah hilang. Banyak orang menjalani hidup tanpa pernah menikmati kemerdekaan yang mereka perjuangkan. Karena itu tidak masuk akal jika generasi yang menikmati kemerdekaan justru menggunakan kebebasan tersebut untuk menghancurkan rumah yang sama.

Kita boleh berbeda pilihan. Kita boleh berbeda pandangan tentang pemerintah. Kita boleh menolak kebijakan tertentu. Kita bahkan boleh marah ketika negara gagal memenuhi kewajibannya. Semua itu bagian dari kehidupan demokratis. Tetapi ada satu batas yang semestinya tidak kita lewati yaitu menjadikan sesama warga sebagai musuh yang harus dihancurkan.

Sebab ketika kebencian sudah menjadi tujuan maka siapa pun dapat menjadi korbannya. Hari ini mungkin orang yang berbeda pilihan politik. Besok mungkin tetangga sendiri. Lusa mungkin kelompok yang selama ini kita bela. Kebencian tidak pernah puas dengan satu sasaran. Ia selalu membutuhkan sasaran berikutnya agar tetap hidup.

Maka Agustus jangan hanya dipenuhi bendera yang berkibar. Ia harus dipenuhi kesadaran bahwa republik ini terlalu berharga untuk diserahkan kepada mereka yang hidup dari kegaduhan. Terlalu mahal untuk dipertaruhkan kepada propaganda. Terlalu besar untuk dijadikan kendaraan kepentingan asing. Dan terlalu manusiawi untuk membiarkan rakyat kecil menjadi korban dari ambisi mereka yang ingin berkuasa.

Merah putih tidak meminta kita semua berpikir sama. Merah putih hanya meminta kita tetap menjadi satu bangsa ketika perbedaan sedang berada pada titik paling tajam.

Demokrasi boleh gaduh. Kritik boleh keras. Kekuasaan boleh digugat. Pemerintah boleh dituntut bertanggung jawab. Tetapi akal sehat harus tetap menjadi batas terakhir.

Sebab yang sedang kita pertahankan bukan sekadar sebuah pemerintahan. Yang kita pertahankan adalah sebuah republik tempat anak-anak kita kelak masih dapat berkata bahwa negeri ini memang milik mereka.

Dan jika suatu hari kita menemukan bahwa kebencian yang kita sebarkan ternyata bukan sepenuhnya milik kita sendiri maka pertanyaan paling memalukan bukan siapa yang pertama menyalakan api.

Pertanyaannya adalah mengapa kita begitu mudah menyediakan kayu bakarnya.

Tinggalkan Komentar