Penulis: Hukman Reni
Di televisi, di gawai, di warung kopi, kita sedang menonton dunia yang sama. Sepak bola. Piala Dunia, liga-liga Eropa, transfer pemain yang angkanya seperti tidak lagi punya hubungan dengan tanah tempat bola itu ditendang. Satu pemain bisa berpindah klub dengan nilai yang cukup untuk membangun ratusan sekolah. Tapi anehnya, yang paling jarang dibahas justru hal paling mendasar, siapa yang sebenarnya memiliki klub-klub itu.
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi jawabannya tidak sesederhana skor akhir pertandingan.
Di Spanyol, jawaban itu justru membingungkan logika bisnis modern. Klub-klub sebesar Real Madrid dan FC Barcelona tidak dimiliki oleh satu orang kaya. Tidak ada “tuan tanah” tunggal yang bisa menjual klub seperti menjual gedung apartemen. Mereka dimiliki oleh para socios. Anggota. Warga biasa yang membayar iuran, datang ke rapat, memilih presiden, dan yang sering dilupakan, ikut memegang arah sejarah klub.
Di negara lain, ini akan dianggap tidak efisien. Di Spanyol, ini dianggap waras.
Model ini bahkan tidak lahir dari idealisme. Ia lahir dari kompromi panjang antara negara, sejarah, dan krisis finansial klub-klub olahraga.
Pada awal 1990-an, pemerintah Spanyol mendorong transformasi klub menjadi perseroan terbatas olahraga. Tapi empat klub menolak berubah sepenuhnya. Real Madrid, Barcelona, Athletic Club, dan CA Osasuna. Negara akhirnya memberi pengecualian. Bukan karena sentimental. Tetapi karena satu alasan yang jarang diucapkan dalam bahasa birokrasi: sistem itu bekerja.
Dalam bahasa ekonomi, ini disebut tata kelola berbasis anggota. Dalam bahasa jalanan, ini disebut “klub milik orang banyak”.
Ada yang menarik di sini. Kita sering diajari bahwa efisiensi hanya lahir dari kepemilikan tunggal, dari investor besar, dari uang yang tidak bertanya terlalu banyak. Tapi di sisi lain dunia ekonomi, ada nama yang justru membongkar keyakinan itu: Elinor Ostrom. Ia tidak memenangkan Nobel karena memuja pasar bebas, tetapi karena menunjukkan bahwa komunitas bisa mengelola sumber daya bersama tanpa harus jatuh ke kekacauan, asal ada aturan main, partisipasi, dan kontrol sosial yang nyata.
Sepak bola Spanyol, dalam skala yang jauh lebih glamor, sedang mempraktikkan itu.
Tentu tidak sempurna. Tidak ada sistem yang sempurna. Tapi data UEFA dan berbagai studi akademik menunjukkan pola yang menarik, klub berbasis anggota cenderung memiliki keterikatan suporter yang lebih stabil. Mereka tidak mudah “ditinggalkan” oleh pemilik. Tidak mudah dipindahkan ke kota lain. Dan tidak mudah diperlakukan seperti aset spekulatif.
Bandingkan dengan klub yang sepenuhnya dimiliki investor. Ketika neraca keuangan bergeser, keputusan bisa berubah drastis. Pemain dijual. Stadion dipindahkan. Tradisi dipertaruhkan. Semua sah. Semua legal. Tapi tidak selalu berakar pada komunitas.
Di Indonesia, kata “koperasi” sering membuat orang tersenyum tipis. Seperti sesuatu yang tiba-tiba melompat dari masa lalu. Simpan pinjam. Rapat panjang. Laporan yang entah dibaca siapa. Tapi di balik stereotip itu, koperasi sebenarnya adalah ide yang sama radikalnya dengan socios di Spanyol, kepemilikan kolektif.
Bedanya, di Spanyol ia menjadi institusi raksasa. Di Indonesia, ia sering berhenti di skala kecil.
Padahal secara teori, ini bukan ide lemah. Ini justru ide yang sangat kuat. Dalam ekonomi kelembagaan modern, tata kelola berbasis stakeholder dianggap lebih tahan krisis karena tidak hanya mengejar laba, tetapi juga keberlanjutan sosial. Masalahnya bukan pada konsep, tetapi pada eksekusi.
Di lapangan, koperasi sering kalah bukan karena salah arah, tetapi karena dua hal klasik, manajemen dan kepercayaan.
Di sinilah perbandingan dengan Spanyol menjadi menarik. Negara itu tidak sekadar membiarkan model socios hidup. Ia memberi pengakuan hukum, batasan regulasi, dan ruang fleksibilitas. Klub boleh besar, boleh komersial, tapi tidak boleh kehilangan akar kepemilikan sosialnya begitu saja.
Sementara di banyak tempat lain, kita sering terjebak dalam dikotomi palsu: seolah-olah hanya ada dua pilihan. Negara atau pasar. Koperasi atau perusahaan. Kolektif atau kapital.
Padahal dunia tidak sesederhana itu.
Model hibrida justru mulai menjadi pembicaraan serius dalam ekonomi modern. Investor bisa masuk, tetapi tidak harus memegang kendali penuh. Modal bisa diperluas, tetapi suara anggota tetap dijaga. Transparansi diperkuat, bukan dihilangkan.
Pertanyaannya bukan lagi “apakah koperasi lebih baik dari perusahaan”. Pertanyaannya berubah menjadi, bagaimana desain institusi yang membuat keduanya bisa hidup dalam satu sistem tanpa saling meniadakan.
Di sepak bola Indonesia, kita bisa melihat potongan kecil dari cerita ini. PSM Makassar misalnya, klub dengan sejarah panjang, basis suporter kuat, dan identitas yang tidak pernah benar-benar bisa dipisahkan dari kota itu sendiri. Namun seperti banyak klub lain, ia juga hidup dalam ketegangan yang sama, antara idealisme akar rumput dan realitas pendanaan modern.
Ketika struktur finansial tidak stabil, yang paling dulu terasa bukan hanya neraca keuangan, tetapi juga ritme di lapangan. Klub seperti kehilangan napasnya sendiri. Bukan karena tidak punya sejarah. Tetapi karena tidak punya sistem yang cukup kuat untuk menjaga sejarah itu tetap hidup dalam kompetisi modern.
Di titik ini, sepak bola menjadi cermin kecil dari ekonomi yang lebih besar.
Kita sering mengagungkan pasar sebagai mekanisme paling efisien. Tapi kita lupa bahwa pasar tidak selalu peduli pada tempat ia berpijak. Ia bergerak ke tempat yang paling menguntungkan, bukan yang paling berakar. Itu bukan kesalahan pasar. Itu sifatnya.
Karena itu, pertanyaan yang lebih jujur mungkin bukan “apakah koperasi lebih baik”, tetapi “apakah kita siap membangun institusi yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menjaga kepemilikan sosial”.
Spanyol, dengan segala keunikannya, memberi satu contoh bahwa itu mungkin. Tidak sempurna, tidak suci, tetapi bertahan di tengah kompetisi global yang brutal.
Dan mungkin di situlah ironi paling simpel. Di saat banyak orang menganggap kepemilikan kolektif sebagai masa lalu, justru beberapa klub paling besar di dunia masih berdiri di atas prinsip tersebut.
Mereka tidak dimiliki oleh satu raja uang.
Mereka dimiliki oleh orang-orang yang datang ke stadion, berdebat di tribun, dan pulang dengan sesuatu yang tidak bisa dibeli di bursa transfer. Rasa memiliki. Dan dalam ekonomi yang semakin jauh dari manusia, rasa itu ternyata masih punya nilai yang sangat mahal.
