Abu Bahar adalah sebuah protes, ketika ia bunuh diri pada usia 43 tahun. Warga Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Jawa Timur itu nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. ....
Berita kematian Abu Bahar memang tak seheboh tubrukan kerata api di Pemalang-Jawa Tengah. Tetapi intinya sama. Nyawa melayang. Di Pemalang akibat keteledoran, atau mungkin juga human error. Sedangkan Abu Bahar, adalah sebuah tragedi kehidupan yang amat getir. ....
Tidak jelas bagaimana latar belakang kehidupan keluarga Abu Bahar. Juga tidak dikabarkan apa sebenarnya pekerjaan sehari-hari ayah satu anak ini. Yang dapat diketahui dari media massa (Tempo Interaktif, 2 Oktober 2010) ia mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri dengan seutas tali di pohon bakau di desa setempat. Bahkan sebelum itu, mungkin dia berusaha minum racun, karena menurut kesaksian warga, di lokasi kejadian juga terdapat botol obat nyamuk.....
Kepala Kepolisian Sektor Panarukan, Situbondo, Ajun Komisaris Supadi mengatakan polisi menemukan surat di dalam dompet korban. Surat yang ditulis dalam bahasa Madura itu, berisi ungkapan frustasi korban yang tidak mampu membiayai istrinya, Suariya, 35 tahun, yang dirawat di salah satu rumah sakit di Malang karena menderita kanker rahim stadium tiga. Alhasil, Abu Bahar adalah sebuah fakta bahwa rumah sakit tak hanya bisa menyebuhkan. Tetapi juga bisa menyakitkan bahkan teramat perih. Rumah sakit tak hanya pertolongan. Tetapi seringkali menolak merawat orang sekarat apabila tak ada uang muka. Akhirnya, kesehatan bukan lagi menjadi hak dasar manusia yang dilindungi undang-undang, karena sudah berubah menjadi komoditi yang dipatok dengan tarif yang lumayan mencekik.....
Abu Bahar adalah sebuah contoh bahwa kemiskinan masih menjerat bangsa yang besar ini. Ia seakan mencoret keberhasilan pemerintah mengurangi jumlah kemiskinan di negara ini. Abu Bahar memberi kita pelajaran bahwa angka pengangguran mungkin berkurang, jumlah masyarakat miskin mungkin bisa ditekan. Tetapi kemelaratan, masih merajalela di kolong langit Indonesia.....
Abu Bahar tentu tak bermaksud menggugat argumentasi para birokrat yang selalu menyebutkan angka keberhasilan dalam menjalankan tugas. Ia hanylah sebuah anekdot, “semut mati di karung gula”. Ia hidup di sebuah negeri yang berpunya. Punya tanah yang subur dan lautan luas yang penuh dengan berbagai kekayaan. ....
Kisah Abu bahar bukanlah sekedar cerita tentang putus asa seseorang yang tak mampu membayar biaya rumah sakit untuk istrinya yang kanker rahim. Ia adalah sebuah kontradiksi kehidupan. Sebab, di negeri ini ada orang yang mampu menghabiskan milyaran rupiah untuk sebuah hajatan. Ada juga yang bisa menghabiskan jutaan rupiah di club malam. Ia hidup di sebuah negeri yang koruptornya lumayan banyak. Ia juga hidup di sebuah negeri yang hasil pajak rakyatnya diselewengkan secara sistematis. Alhasil, Abu Bahar adalah sebuah jeritan. Sebuah protes kehidupan.....