Kopi, Desa, dan Kedaulatan


Di kaki Gunung Sindoro, Desa Kuripan, Wonosobo, secangkir kopi menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada aromanya.

Di antara barisan tanaman kopi yang tumbuh subur, ada harapan yang sedang dirawat. Bukan hanya tentang hasil panen, bukan pula semata-mata tentang harga jual. Ada ikhtiar untuk mengubah cara warga desa memandang kekuatan ekonominya sendiri.

Di sinilah aktivasi Kelompok Masyarakat Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih menemukan maknanya.

Petani memiliki tanah. Warga memiliki tenaga. Desa memiliki potensi. Tetapi semua itu tidak otomatis menjadi kekuatan ekonomi jika berjalan sendiri-sendiri.

Di sinilah koperasi dibutuhkan.
Koperasi bukan sekadar papan nama, gedung, atau dokumen administrasi. Ia harus menjadi kekuatan kolektif yang mampu mempertemukan produksi, distribusi, akses pasar, dan kesejahteraan warga.

Sebab persoalan petani bukan hanya bagaimana menanam dan memanen. Persoalan sesungguhnya juga terletak pada siapa yang menguasai jalur perdagangan, siapa yang menentukan harga, dan siapa yang menikmati nilai tambah dari hasil keringat mereka.

Petani jangan selamanya hanya menjadi produsen yang menjual murah, sementara keuntungan berlipat justru dinikmati pihak lain.

Itulah mengapa gerakan koperasi perlu dimulai dari kesadaran bersama. Bukan karena perintah, bukan sekadar mengejar target pembentukan, melainkan karena warga memahami bahwa kekuatan ekonomi akan lebih berarti ketika dikelola bersama.

Kebun kopi Kuripan memberikan pelajaran sederhana.

Pohon tidak tumbuh hanya karena benih ditanam. Ia membutuhkan tanah yang sehat, perawatan, kesabaran, dan waktu. Koperasi pun demikian. Tidak cukup dibentuk. Ia harus ditumbuhkan, dirawat, dan dibuktikan manfaatnya.

Kita tidak sedang membangun romantisme desa. Kita sedang membangun jalan agar masyarakat desa tidak terus-menerus berada di ujung rantai ekonomi.

Dari kebun kopi di kaki Dieng, sebuah pesan layak dibawa pulang.

Desa tidak kekurangan potensi. Yang sering kurang adalah kekuatan untuk menyatukannya.

Dan mungkin, suatu hari nanti, kopi Kuripan bukan hanya dikenal karena cita rasanya. Tetapi juga karena kisah warganya yang berani membangun kemandirian melalui koperasi.

Sebab secangkir kopi bisa habis dalam beberapa tegukan.

Tetapi semangat kemandirian yang tumbuh dari desa, semestinya diwariskan lintas generasi.

Tinggalkan Komentar