Oleh: Hukman Reni
Seorang pemikir masuk istana. Publik pun gaduh. Jumat, 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Rocky Gerung. Ia menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden.[1] Ia hanya satu dari dua puluh enam nama. Namun hanya namanya yang memantik keributan. Para pengagum merasa ditinggalkan. Sebagian menyebutnya menyerah. Sebagian lagi memilih kata yang jauh lebih kasar.
Kekecewaan itu layak dibaca pelan-pelan. Ia tidak lahir dari fakta. Ia lahir dari harapan yang dipelihara sendiri. Publik membangun patung oposan abadi. Lalu publik marah ketika patung itu bergerak. Rocky menjawab dengan ringan. Ia mengaku cuma pindah dari luar ke dalam.[2] Kalimat itu bisa jujur. Bisa juga sekadar retorika. Waktu yang akan mengujinya. Vonis sebelum waktu bekerja adalah kebiasaan yang buruk.
Tiga Rumah Pengetahuan
Kegaduhan ini berakar pada kekacauan kategori. Publik kerap mencampur ilmuwan, akademisi, dan intelektual. Ketiganya berkerabat, tetapi tidak serumah. Ilmuwan tunduk pada kaidah empiris. Ia bekerja dengan hipotesis, data, dan uji ulang. Akademisi hidup dalam struktur kampus. Ia diatur birokrasi, jabatan fungsional, dan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Keduanya punya pagar kelembagaan yang jelas.
Intelektual publik berdiri di halaman yang lain. Arenanya adalah diskursus gagasan. Senjatanya adalah artikulasi nilai. Tugasnya mengawal arah kebudayaan politik. Rocky lebih tepat dibaca dalam kategori ini. Mengukurnya dengan parameter laboratorium akan meleset. Mengukurnya dengan angka kredit dosen juga meleset. Kesalahan alat ukur selalu melahirkan kesimpulan yang kabur.
Dua Pijakan yang Sah
Seorang intelektual punya dua pijakan strategis. Keduanya sah secara etik. Pijakan pertama berada di luar sistem. Di sana ia menjalankan fungsi oposisional. Ia membongkar kesesatan berpikir. Ia memberi kritik tanpa beban jabatan. Edward Said melukiskan sosok ini sebagai amatir yang berani menyampaikan kebenaran kepada kuasa.[3] Ia bebas karena tidak digaji siapa pun.
Pijakan kedua berada di dalam sistem. Di sana ia menjadi perancang kebijakan. Ia menerjemahkan abstraksi menjadi argumentasi publik. Ia ikut menyusun arsitektur keputusan negara. Max Weber sudah lama membedakan dua etika. Ada etika keyakinan yang menjaga kemurnian niat. Ada etika tanggung jawab yang menanggung akibat tindakan.[4] Yang di luar lebih leluasa merawat etika pertama. Yang di dalam dipaksa memikul etika kedua. Ini bukan soal kesucian. Ini soal pilihan beban.
Gramsci dan Pertanyaan Organik
Antonio Gramsci menulis tentang intelektual dari balik penjara fasis. Baginya, setiap orang adalah intelektual. Namun tidak semua orang menjalankan fungsi intelektual dalam masyarakat.[5] Gramsci membedakan intelektual tradisional dan intelektual organik. Yang pertama merasa otonom dari kelas mana pun. Yang kedua lahir dan bekerja bersama kelompok sosial tertentu. Dalam kerangka ini, intelektual tidak pernah hidup di ruang hampa.
Kerangka Gramsci membela kehadiran intelektual dalam praksis. Menempelkan cap penjilat secara tergesa adalah kemalasan berpikir. Cap itu mengabaikan fungsi yang sedang dijalankan. Tetapi Gramsci juga menyisakan pertanyaan yang tidak nyaman. Organik bagi siapa? Intelektual organik bisa melayani kelompok yang memerintah. Ia bisa pula menyuarakan kesadaran kelompok yang diperintah. Masuk istana tidak otomatis berarti berkhianat. Masuk istana juga tidak otomatis berarti membela rakyat.
Ruang Deliberasi
Julien Benda menulis peringatan keras pada 1927. Ia menuduh kaum cendekiawan Eropa telah berkhianat.[6] Mereka menukar nilai universal dengan gairah politik. Mereka mengabdi pada bangsa, kelas, dan partai. Peringatan ini sering dipakai untuk menghakimi siapa pun yang dekat kekuasaan. Padahal sasaran Benda lebih spesifik. Ia menyerang pemikir yang mengorbankan prinsip demi kepuasan partisan. Ia tidak menyerang setiap pemikir yang membawa gagasan ke meja kebijakan.
Jürgen Habermas menambah lapisan berikutnya. Ia menekankan ruang publik tempat warga bernalar bersama.[7] Lewat teori tindakan komunikatif, ia menimbang kekuatan argumen yang lebih baik.[8] Ruang publik rasional tidak cukup berada di jalanan. Ia juga tidak cukup di panggung debat televisi. Nalar publik perlu disuntikkan ke ruang deliberasi kekuasaan. Tanpa itu, keputusan negara mudah tergelincir. Ia menjadi kalkulasi teknokratis belaka, rapi di atas kertas, tuli terhadap warga.
Di titik ini fungsi dewan pertimbangan menemukan maknanya. Rocky menyebut lembaga itu berkedudukan etis, bukan teknis.[9] Tugasnya melihat ekses kebijakan. Tugasnya menimbang arah sebelum keputusan diambil. Namun ia juga mengakui satu hal. Dalam urusan pertimbangan, penggunanya adalah Presiden.[10] Pengakuan itu jujur sekaligus menggelisahkan. Pertimbangan yang baik bisa diterima. Pertimbangan yang baik juga bisa disimpan di laci.
Ukuran yang Tersisa
Maka menilai intelektual di dalam sistem tidak bisa bersandar pada sentimen. Kekecewaan personal bukan alat ukur. Kekaguman personal juga bukan. Ukurannya terletak pada akal sehat yang tetap diasah. Ukurannya terletak pada keteguhan argumentasi saat kebijakan dirancang. Ukurannya juga terletak pada keberanian bersuara ketika pertimbangan diabaikan. Gramsci akan menambahkan satu ukuran lagi. Kepentingan siapa yang sedang ia suarakan?
Publik tetap berhak mengawasi. Pengawasan itu justru bagian dari ruang publik yang sehat. Tetapi mengawasi berbeda dengan menghakimi lebih dulu. Selama daya kritis bekerja, kehadiran intelektual di dalam sistem adalah dinamika praksis pemikiran. Ketika daya kritis itu padam, barulah kata pengkhianatan menemukan alamatnya. Sampai hari itu tiba, yang perlu diperiksa bukan hanya Rocky. Yang perlu diperiksa juga kebiasaan kita memuja tokoh, lalu membakarnya.
Sumber Acuan
1. “Profil Akademisi Rocky Gerung yang Dilantik Prabowo Jadi Wantimpres,” kumparan, 2 Oktober 2026, https://kumparan.com/kumparannews/profil-akademisi-rocky-gerung-yang-dilantik-prabowo-jadi-wantimpres-28ITrpx0OIH. Pelantikan berdasar Keputusan Presiden Nomor 106P Tahun 2026. ↑
2. “Rocky Gerung Dilantik Prabowo jadi Wantimpres: Cuma Pindah ke Dalam, Tetap Radikal,” SINDOnews, 2 Oktober 2026, https://nasional.sindonews.com/read/1756407/12/rocky-gerung-dilantik-prabowo-jadi-wantimpres-cuma-pindah-ke-dalam-tetap-radikal-1790986203. ↑
3. Edward W. Said, Representations of the Intellectual: The 1993 Reith Lectures (New York: Vintage Books, 1996), terutama bab 4 dan 5. ↑
4. Max Weber, “Politics as a Vocation,” dalam From Max Weber: Essays in Sociology, ed. dan terj. H. H. Gerth dan C. Wright Mills (New York: Oxford University Press, 1946), 120–21. ↑
5. Antonio Gramsci, Selections from the Prison Notebooks, ed. dan terj. Quintin Hoare dan Geoffrey Nowell Smith (New York: International Publishers, 1971), 5–9. ↑
6. Julien Benda, The Treason of the Intellectuals, terj. Richard Aldington (New Brunswick: Transaction Publishers, 2007). Edisi asli terbit di Paris tahun 1927 dengan judul La Trahison des clercs. ↑
7. Jürgen Habermas, The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois Society, terj. Thomas Burger (Cambridge, MA: MIT Press, 1989), 27. ↑
8. Jürgen Habermas, The Theory of Communicative Action, vol. 1, Reason and the Rationalization of Society, terj. Thomas McCarthy (Boston: Beacon Press, 1984), terutama bab 1. ↑
9. “Jadi Wantimpres, Rocky Gerung Ungkap Pesan Khusus Prabowo,” detikNews, 2 Oktober 2026, https://news.detik.com/berita/d-8689828/jadi-wantimpres-rocky-gerung-ungkap-pesan-khusus-prabowo. ↑
10. Husna Rahmayunita, “Rocky Gerung Jadi Anggota Wantimpres, Apa Saja Tugas dan Berapa Gajinya?,” Suara.com, 3 Oktober 2026, https://www.suara.com/news/2026/10/03/073515/rocky-gerung-jadi-anggota-wantimpres-apa-saja-tugas-dan-berapa-gajinya.
