Tangis dari Papua

Tangis dari Papua


Berita datang hampir setiap hari. Melintas di layar telepon genggam di sela pekerjaan, di meja makan, di perjalanan, atau ketika malam mulai merambat. Setiap sebuah judul muncul, dibaca beberapa detik, lalu tenggelam oleh kabar berikutnya. Begitulah arus informasi bergerak, cepat dan nyaris tanpa henti.

Namun di antara putaran itu, ada berita yang menolak berlalu.

Ia tidak selesai ketika layar dimatikan. Tidak berhenti ketika halaman berganti. Ia menetap di dalam ingatan, lalu berubah menjadi pertanyaan yang terus mencari jawaban. Mengapa manusia yang tidak memegang senjata justru harus kehilangan nyawanya?

Penembakan warga sipil di Jalan Trans Papua adalah salah satunya.

Bagi sebagian orang, tiga korban jiwa di Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, pada 20 Juli 2026 mungkin hanya menjadi angka yang sebentar diperdebatkan, sebelum akhirnya tenggelam oleh hiruk pikuk peristiwa lain.

Angka memang mudah disebut. Mudah dihitung. Mudah pula dilupakan. Namun tidak ada angka yang pernah mampu menjelaskan bagaimana sebuah rumah mendadak kehilangan tawa.

Tidak ada statistik yang sanggup menerangkan bagaimana seorang anak menunggu pintu terbuka, lalu menyadari orang yang dinantikan tidak akan pernah kembali.

Di balik angka itu ada tiga kehidupan yang direnggut sebelum waktunya. Ada tiga napas yang berhenti tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan. Ada keluarga yang seketika kehilangan arah, kehilangan tempat bersandar, kehilangan seseorang yang selama ini menjadi alasan untuk pulang.

Kematian selalu meninggalkan ruang kosong. Namun kematian akibat kekerasan meninggalkan ruang yang jauh lebih sulit dimaklumi.

Berita itu menghantam kesadaran dengan cara yang tidak mudah dijelaskan. Bukan semata karena ada nyawa yang melayang. Melainkan karena yang gugur adalah warga sipil. Mereka bukan pasukan yang sedang bertempur. Mereka bukan orang yang berdiri di balik benteng pertahanan. Mereka tidak sedang membawa senjata menuju medan perang. Mereka hanya manusia yang sedang menjalani hidup.

Nama Yantinus Kogoya, Shelly Wenda, dan seorang perempuan dari Suku Unaukam kini tidak lagi sekadar tercatat dalam laporan sebuah peristiwa.

Nama nama itu telah berubah menjadi duka.

Mungkin pagi itu mereka berangkat seperti hari hari sebelumnya. Memikirkan pekerjaan yang harus diselesaikan. Membayangkan makan malam bersama keluarga. Merencanakan sesuatu yang sederhana untuk hari esok.

Tidak ada yang benar-benar bersiap menghadapi peluru.

Sebab tidak seorang pun memulai pagi dengan keyakinan, bahwa hari itu adalah hari terakhir dalam hidupnya.

Setiap konflik selalu melahirkan banyak tuduhan. Ada yang disebut musuh. Ada yang dicurigai sebagai lawan. Ada yang dijadikan sasaran atas nama perjuangan, keamanan, ataupun pembalasan.

Namun semua sebutan itu kehilangan arti ketika tubuh yang rebah adalah warga sipil.

Darah tidak pernah bertanya tentang ideologi.
Air mata tidak pernah memilih bendera.

Yang tampak nyata hanyalah kehilangan.

Hukum perang internasional sejak lama telah menempatkan warga sipil sebagai pihak yang wajib dilindungi. Prinsip itu lahir dari kesadaran bahwa, bahkan dalam peperangan sekalipun, kemanusiaan tidak boleh ditembak mati. Konvensi Jenewa tidak disusun untuk menghapus perang, melainkan untuk memastikan bahwa masih ada batas yang tidak boleh dirobohkan.

Namun setiap kali warga sipil kembali menjadi korban, batas itu terasa seperti garis yang perlahan memudar.

Lembaran hukum tampak begitu kuat ketika dibaca di ruang sidang atau bangku kuliah. Akan tetapi, ketika peluru melesat di jalanan dan tubuh manusia roboh di tanah, hukum sering kali kehilangan suaranya.

Yang tersisa adalah keluarga yang harus menerima kenyataan yang tidak pernah mereka pilih.

Di situlah tragedi selalu bermula.

Setiap letusan senjata selalu mengabarkan satu kematian lebih dahulu.

Bukan kematian manusia.

Melainkan kematian damai.

Ketika damai gugur, peluru tidak lagi sekadar mencari sasaran. Ia mulai merampas rasa aman, memutus harapan, dan perlahan mengubah rumah menjadi tempat yang dipenuhi penantian yang tak lagi memiliki jawaban.

Sesudah damai tumbang, barulah satu demi satu nyawa menyusul menjadi korban.

Dan hampir selalu, warga sipil menjadi pihak yang memikul beban paling berat.

Pikiran kemudian melangkah jauh meninggalkan lokasi penembakan. Ia memasuki rumah-rumah yang kini kehilangan cahaya.

Terbayang seorang anak yang terbangun lalu mencari ibunya.

Terbayang tangan kecil yang meraih pelukan ayahnya, tetapi hanya menemukan ruang kosong.

Terbayang seseorang yang masih percaya bahwa pintu rumah akan terbuka, sebelum akhirnya memahami bahwa penantian itu tidak akan pernah berakhir seperti hari-hari sebelumnya.

Di sanalah sebuah berita berhenti menjadi berita.
Ia berubah menjadi kehidupan yang patah.

Dan setiap kehidupan yang patah selalu meninggalkan tangis yang tidak pernah selesai hanya dalam satu hari.

Peperangan hampir selalu dihitung dari jumlah korban. Berapa yang meninggal, berapa yang terluka, berapa rumah yang terbakar, berapa wilayah yang dikuasai. Angka-angka itu kemudian memenuhi laporan, menjadi bahan rapat, masuk ke dalam berita, lalu perlahan menghilang bersama datangnya peristiwa berikutnya.

Namun kehilangan tidak pernah pandai berhitung.

Tidak ada rumus yang mampu mengukur bagaimana rasanya ketika sebuah keluarga mendadak kehilangan tempat berpulang.

Tidak ada statistik yang sanggup menjelaskan mengapa seorang anak terus menoleh ke arah pintu, berharap ayahnya datang seperti hari-hari sebelumnya, padahal yang pulang hanyalah kabar kematian.

Peluru hanya membutuhkan satu tarikan jari.

Namun kehilangan akan terus menarik air mata sepanjang sisa usia mereka yang ditinggalkan.

Pikiran kemudian melangkah menuju rumah rumah yang kini dipenuhi kesunyian yang berbeda. Bukan karena tidak ada suara, melainkan karena ada suara yang selamanya tidak akan terdengar lagi. Tidak ada lagi langkah kaki yang biasa menyambut pagi. Tidak ada lagi sapaan sederhana ketika hari mulai gelap. Tidak ada lagi seseorang yang bertanya apakah anak-anak sudah makan atau belum.

Begitulah kekerasan bekerja.

Ia tidak hanya merenggut satu kehidupan. Ia juga mengubah sebuah rumah menjadi tempat yang tidak pernah benar-benar sama lagi.

Betapa berat membayangkan seorang anak yang suatu hari bertanya mengapa ayahnya tidak kunjung pulang. Betapa sulit menjelaskan kepada seorang bocah bahwa orang yang selama ini memeluknya sebelum tidur, telah direnggut oleh peluru yang bahkan tidak pernah dipahaminya. Ada pertanyaan yang terlalu besar untuk dijawab oleh orang dewasa, apalagi oleh seorang anak.

Tidak ada usia yang tepat untuk kehilangan ayah.
Tidak ada usia yang siap kehilangan ibu.

Ada luka yang mungkin tidak tampak di tubuh mereka, tetapi akan ikut tumbuh bersama bertambahnya umur. Luka itu hadir ketika hari pertama masuk sekolah. Hadir ketika menerima rapor. Hadir ketika merayakan ulang tahun. Hadir ketika kelak berdiri di pelaminan atau menggendong anak pertama. Pada setiap peristiwa penting, selalu ada satu ruang yang tidak lagi dapat diisi oleh siapa pun.

Pemakaman memang berakhir dalam hitungan jam.

Namun duka tidak mengenal batas waktu.

Ia tinggal diam di sudut ingatan, lalu muncul kembali pada saat-saat yang tidak pernah diduga.
Setiap orang yang pernah kehilangan seseorang akan memahami bahwa waktu tidak menghapus rindu. Waktu hanya mengajarkan cara hidup berdampingan dengan kehilangan.

Bagi anak anak yang orang tuanya direnggut oleh kekerasan, pelajaran itu datang terlalu cepat.

Terlalu berat.

Dan terlalu mahal.

Barangkali inilah wajah perang yang paling jarang diperlihatkan. Bukan dentuman senjata. Bukan kendaraan militer. Bukan kepulan asap yang memenuhi langit.

Wajah perang yang sesungguhnya justru tampak pada seorang anak yang harus belajar menjadi dewasa sebelum waktunya, karena orang yang selama ini menjadi tempat bergantung telah tiada.

Tidak ada kemenangan yang mampu menghapus kenyataan itu.

Tidak ada pembenaran yang mampu mengembalikan sebuah pelukan.

Tidak ada ideologi yang sanggup menghadirkan kembali seorang ayah di meja makan atau seorang ibu di samping tempat tidur anaknya.

Di titik inilah kemanusiaan seharusnya mengambil alih semua perdebatan.

Sebab sebelum seseorang dikenal karena sukunya, agamanya, pilihan politiknya, atau keberpihakannya, ia lebih dahulu adalah anak dari seseorang, pasangan bagi seseorang, dan orang tua bagi seseorang.

Kematian tidak pernah datang hanya kepada satu orang.

Ia selalu mengetuk seluruh isi rumah.

Setiap kali seorang warga sipil kehilangan nyawa, sesungguhnya ada banyak kehidupan lain yang ikut berubah. Ada anak yang kehilangan masa kecilnya. Ada orang tua yang kehilangan buah hatinya. Ada pasangan yang kehilangan teman seperjalanan. Ada keluarga yang kehilangan alasan untuk tersenyum seperti hari hari sebelumnya.

Itulah sebabnya penembakan terhadap warga sipil tidak pernah dapat dipandang sebagai sekadar korban peluru nyasar.

Ia adalah luka yang menjalar dari satu tubuh menuju banyak hati.

Ada bahaya lain yang perlahan tumbuh ketika kekerasan terus berulang. Semakin sering sebuah tragedi diberitakan, semakin besar pula godaan untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Berita tentang kematian berganti begitu cepat sehingga rasa terkejut perlahan memudar. Air mata belum sempat mengering, berita lain sudah datang meminta perhatian.

Di situlah nurani mulai diuji.

Kematian selalu merampas satu kehidupan.

Namun kekerasan yang terus berulang perlahan merampas sesuatu yang lebih besar. Yaitu kemampuan manusia untuk tetap terkejut oleh kematian itu sendiri.

Ketika warga sipil terbunuh dan hati tidak lagi terusik, sesungguhnya yang sedang terluka bukan hanya keluarga korban.

Kemanusiaan ikut kehilangan sebagian dari dirinya.

Karena itu, tangis dari Papua tidak seharusnya berhenti di tanah Papua.

Tangis itu seharusnya sampai ke setiap hati yang masih percaya, bahwa kehidupan manusia jauh lebih berharga daripada kemenangan apa pun yang dibangun di atas darah mereka yang tidak pernah mengangkat senjata.

Tidak semua orang memiliki kuasa menghentikan sebuah konflik yang telah berlangsung bertahun tahun. Tidak semua orang mampu mengubah arah sejarah hanya dalam semalam.

Ada persoalan yang terlalu rumit untuk diselesaikan oleh satu keputusan, terlalu panjang untuk dijawab oleh satu generasi.

Namun selalu ada satu hal yang dapat dipilih.

Tidak membiarkan nurani kehilangan suaranya.

Papua tidak hanya menyimpan kerumitan hubungan antara kelompok bersenjata dan negara. Ada ruang lain yang selama ini ikut membentuk suara publik, yaitu organisasi masyarakat sipil, lembaga kemanusiaan, kalangan akademik, serta mereka yang selama bertahun tahun mengingatkan pentingnya penghormatan terhadap hak asasi manusia. Pada setiap peristiwa yang merenggut nyawa warga sipil, harapan yang sama semestinya diarahkan kepada seluruh pihak. Sebab keberpihakan kepada warga sipil tidak boleh berubah mengikuti siapa pelakunya. Nilai kemanusiaan kehilangan maknanya ketika diterapkan secara tebang pilih.

Setiap nyawa memiliki martabat yang sama.

Setiap air mata memiliki alasan yang sama untuk dihormati.

Dan setiap keluarga yang kehilangan orang yang dicintainya berhak memperoleh empati yang sama porsinya.

Barangkali inilah ujian paling berat bagi nurani. Mampukah belas kasih tetap berdiri ketika identitas, kepentingan, dan perbedaan pandangan saling bertabrakan. Mampukah seseorang tetap menyebut sebuah tindakan sebagai salah ketika korbannya berasal dari kelompok yang berbeda. Mampukah kemanusiaan tetap menjadi rumah bersama ketika dunia sibuk memilih kubunya masing masing.

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak hanya ditujukan kepada mereka yang memegang senjata.

Pertanyaan itu juga ditujukan kepada setiap hati yang masih mengaku mencintai kehidupan.

Tidak ada masyarakat yang benar-benar menang apabila anak-anaknya tumbuh dengan mengenal suara letusan lebih dahulu daripada suara tawa. Tidak ada cita-cita yang pantas dirayakan apabila jalan menuju masa depan harus dibangun di atas tubuh warga sipil yang tidak pernah memilih menjadi bagian dari pertikaian.

Dalam setiap peperangan, yang pertama kali gugur bukanlah manusia.

Yang lebih dahulu gugur adalah damai.
Sesudah damai tumbang, ketakutan mulai mengambil tempatnya. Rumah kehilangan rasa aman. Jalan kehilangan harapan. Anak-anak kehilangan masa kecilnya. Dan ketika keadaan itu berlangsung terlalu lama, perlahan manusia kehilangan kemampuan untuk terkejut oleh penderitaan orang lain.

Itulah kekalahan yang paling menyedihkan.

Bukan karena satu pihak kalah menghadapi pihak lain.

Melainkan karena kemanusiaan kalah menghadapi kebiasaannya sendiri.

Tulisan ini tidak lahir untuk mengadili siapa yang paling benar. Tulisan ini juga tidak ditulis untuk memperpanjang daftar kebencian yang telah terlalu panjang. Tulisan ini hanya ingin merawat ingatan bahwa Yantinus Kogoya, Shelly Wenda, seorang perempuan dari Suku Unaukam, dan begitu banyak warga sipil lainnya bukanlah angka yang layak dilupakan setelah berita berganti.

Mereka pernah hidup.
Mereka pernah dicintai.

Dan mereka pernah menjadi alasan seseorang menunggu di rumah.

Mungkin esok akan datang berita baru. Judul yang hari ini memenuhi layar perlahan bergeser oleh peristiwa lain. Begitulah dunia bergerak. Namun semoga ada satu hal yang tidak ikut berlalu, yaitu ingatan bahwa di balik setiap berita selalu ada manusia yang dicintai seseorang.

Sejarah mungkin akan mencatat siapa yang memenangkan sebuah peperangan.

Namun air mata selalu mengingat siapa yang tidak pernah kembali.

Dan mungkin, di sebuah rumah yang jauh dari perhatian dunia, malam ini masih ada seorang anak yang tertidur sambil memeluk harapan bahwa esok pagi ayah atau ibunya akan membuka pintu seperti hari hari sebelumnya. Harapan itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Namun seorang anak tidak pernah tahu bahwa harapan pun dapat kehilangan jalan pulang.

Pada akhirnya, tidak ada kemenangan yang layak dirayakan jika seorang anak harus belajar memanggil ayah dan ibunya melalui pusara.

Tinggalkan Komentar