Dari Aspal ke Algoritma

Dari Aspal ke Algoritma


Oleh: Hukman Reni

Suara sirene bersahutan di depan Gedung DPR. Matahari Jakarta siang itu membakar aspal hingga memantulkan hawa panas ke wajah para mahasiswa yang berdesakan di balik pagar kawat. Di atas mobil komando, seorang orator berteriak serak. Tangannya mengepal ke udara, sementara ribuan mahasiswa menjawab dengan pekik yang sama, menolak kebijakan yang mereka anggap mencederai demokrasi.

Pemandangan seperti itu pernah menjadi wajah utama gerakan mahasiswa Indonesia. Jalan raya adalah arena perlawanan. Aspal menjadi ruang kuliah terbuka tempat idealisme diuji oleh panas, hujan, bahkan pentungan aparat.

Namun beberapa tahun terakhir, panggung itu perlahan berubah.

Perlawanan tidak lagi selalu lahir dari jalanan. Ia bisa muncul dari sebuah gambar sederhana di layar ponsel, dari tagar yang melesat di media sosial, atau dari unggahan yang dibagikan jutaan kali dalam hitungan jam. Jika dahulu mahasiswa harus berkumpul di satu titik untuk menyampaikan kemarahan, kini kemarahan kolektif dapat terkonsolidasi hanya melalui sentuhan jari.

Perubahan inilah yang memunculkan pertanyaan penting, apakah demonstrasi jalanan masih relevan di era digital, atau justru ruang siber telah menjadi medan perjuangan baru yang lebih efektif?

Dalam sejarah Indonesia, demonstrasi fisik memiliki kekuatan yang sulit ditandingi.

Runtuhnya Orde Lama, tumbangnya Orde Baru, hingga berbagai koreksi terhadap kebijakan pemerintah selalu diwarnai kehadiran massa di ruang publik. Ribuan orang yang berkumpul di satu tempat menciptakan tekanan yang nyata dan terlihat. Mereka tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi menjadi pesan itu sendiri.

Kehadiran fisik memiliki daya kejut yang tidak bisa direplikasi dunia maya. Ketika jalan protokol lumpuh oleh lautan manusia, ketika pagar parlemen dipenuhi spanduk satire, atau ketika suara orasi menggema di antara gedung-gedung pemerintahan, penguasa dipaksa melihat langsung wajah ketidakpuasan rakyat.

Namun harga yang harus dibayar tidak murah. Demonstrasi membutuhkan biaya logistik, koordinasi yang rumit, dan risiko keselamatan yang tidak kecil.

Dalam banyak kasus, aksi massa juga rentan disusupi pihak-pihak yang sengaja menciptakan kerusuhan agar gerakan kehilangan legitimasi. Tanpa narasi yang kuat, demonstrasi bahkan bisa dianggap sekadar rutinitas tahunan yang mengganggu lalu lintas tanpa menghasilkan perubahan berarti.

Di sinilah ruang digital mulai mengambil peran.

Aktivisme Jempol

Pada malam hari, ketika jalanan kembali lengang, perlawanan ternyata belum berakhir.
Ia berpindah ke layar-layar ponsel.

Di ruang digital, seorang mahasiswa di pelosok Nusa Tenggara Timur memiliki peluang yang sama untuk menyuarakan kritik seperti mahasiswa di Jakarta. Tidak ada batas geografis, tidak ada biaya transportasi, dan tidak ada keharusan mengumpulkan ribuan orang di satu tempat.

Satu unggahan dapat menjangkau jutaan pengguna hanya dalam beberapa jam.

Inilah kekuatan terbesar aktivisme digital: kecepatan dan jangkauan.

Kritik terhadap model perlawanan ini memang tidak sedikit. Banyak yang menyebutnya sebagai slacktivism. Aktivisme malas yang berhenti pada tombol suka, komentar, dan share. Bagi para pengkritiknya, perubahan sosial tidak mungkin lahir hanya dari tagar.

Tetapi kenyataan menunjukkan hal yang lebih kompleks.

Di era ketika citra publik menjadi aset politik yang sangat berharga, viralitas dapat berubah menjadi tekanan yang nyata. Ketika sebuah isu mendominasi percakapan nasional, pejabat publik tidak lagi bisa mengabaikannya begitu saja.

Algoritma media sosial sering kali menjadi alarm yang memaksa kekuasaan bereaksi.

Alarm Biru yang Menggerakkan Jalanan

Agustus 2024 menjadi salah satu contoh paling menarik.

Awalnya hanya sebuah gambar sederhana: lambang Garuda berlatar biru pekat. Tidak ada pengeras suara. Tidak ada mobil komando. Tidak ada barisan massa.

Hanya gambar.

Namun dalam hitungan jam, gambar itu membanjiri linimasa X, Instagram, dan TikTok. Warganet menyebutnya "Alarm Biru" atau #PeringatanDarurat.

Kemarahan publik saat itu dipicu oleh polemik terkait upaya DPR menganulir putusan Mahkamah Konstitusi mengenai syarat pencalonan kepala daerah. Di ruang digital, kemarahan itu tumbuh seperti bola salju.

Lalu sesuatu yang menarik terjadi.

Apa yang semula hanya berupa unggahan di layar ponsel berubah menjadi gelombang manusia di jalanan. Mahasiswa, buruh, aktivis, dan warga sipil turun ke berbagai kota. Demonstrasi besar berlangsung hampir serentak.

Tekanan digital telah menemukan bentuk fisiknya.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa dunia maya dan dunia nyata bukanlah dua medan yang saling meniadakan. Aktivisme digital berfungsi sebagai pemantik, sementara demonstrasi fisik menjadi pengungkit yang menerjemahkan kemarahan publik menjadi tekanan politik konkret.

Viral Menjadi Jalan Terakhir

Fenomena lain yang menunjukkan kekuatan ruang digital terlihat dalam tagar #PercumaLaporPolisi.

Tagar itu lahir dari akumulasi kekecewaan publik terhadap proses penegakan hukum yang dianggap lambat, tidak adil, atau sulit diakses masyarakat kecil.

Dalam berbagai kasus, perhatian publik baru muncul setelah sebuah persoalan menjadi viral.

Masyarakat masih ingat kisah nenek Elina di Surabaya yang rumahnya diratakan secara paksa. Mereka juga mengingat nenek Asyani di Situbondo yang terseret kasus kayu jati, serta kakek Mujiran di Lampung yang diproses hukum karena diduga mengambil getah karet untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Kasus-kasus seperti ini memperlihatkan pola yang sama. Ketika jalur formal terasa lamban atau buntu, ruang digital menjadi arena alternatif untuk mencari keadilan.

Istilah "no viral, no justice" lahir bukan tanpa alasan.

Bagi banyak warga, viralitas menjadi cara terakhir agar suara mereka didengar.

Dua Sayap Perubahan

Mungkin perdebatan tentang mana yang lebih efektif, demonstrasi offline atau aktivisme online, sebenarnya berangkat dari pertanyaan yang keliru.

Sejarah beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa keduanya bukan lawan, melainkan pasangan.

Gerakan digital tanpa aksi nyata berisiko menguap menjadi tren sesaat. Sebaliknya, demonstrasi fisik tanpa dukungan narasi dan amplifikasi media sosial mudah tenggelam dari perhatian publik.

Kekuatan gerakan mahasiswa modern justru terletak pada kemampuannya mengawinkan keduanya.

Ruang digital dapat menjadi laboratorium gagasan, tempat riset, pengumpulan data, dan pembangunan kesadaran publik. Ketika isu telah dipahami luas, jalanan mengambil peran sebagai ruang artikulasi politik yang lebih konkret.

Jika dahulu mahasiswa hanya menguasai aspal, kini mereka juga harus memahami algoritma.

Dari Jalanan ke Lini Masa

Perjuangan sosial selalu menemukan caranya sendiri untuk beradaptasi dengan zaman.

Di satu masa, perlawanan diwujudkan melalui selebaran yang dibagikan diam-diam. Pada masa lain, ia hadir dalam bentuk orasi yang menggema dari atas mobil komando.

Kini, perlawanan sering lahir dari layar berukuran enam inci yang berada di genggaman tangan.

Namun esensinya tidak berubah.

Baik di jalanan maupun di ruang digital, tujuan akhirnya tetap sama, memastikan suara mereka yang lemah tidak hilang ditelan sunyi. Agar kisah-kisah seperti yang dialami kakek Mujiran, nenek Elina, atau jutaan rakyat kecil lainnya tidak berhenti sebagai catatan pinggir, melainkan menjadi alasan mengapa gerakan sosial terus hidup.

Aspal dan algoritma hanyalah alat.

Yang tetap menjadi jantung perjuangan adalah keberanian untuk bersuara, dan suara itu untuk mereka yang termarginalkan bukan untuk menguatkan para pemodal yang sudah menindas rakyat dengan kuku ekonomi kolonialnya.

Tinggalkan Komentar